Antariksa, Irwan Ahmett & Tita Salina at Cemeti Art House

This Thursday 11 of December there will be a presentation and discussion about the Japanese-occupied Indonesia.

Antariksa is a researcher and co-founder of KUNCI Cultural Studies in Yogyakarta. He is now working on his new book about Indonesian art during Japanese occupation in 1940’s.

Irwan Ahmett and Tita Salina are two artists from Jakarta whose practice often touch on themes of ‘vulnerability’, because they believe that their processes contain essential issues of humanism at its most basic and universal centre.

They will present a series of interventions from their three month residency at the Tokyo Wonder Site, Japan. In this presentation they will also speak about Japan’s geopolitical relationship with Indonesia, beginning with historical connections, as well as the spectrum of contemporary situations, and then imagining a leap far into the future, looking at the vulnerability of a social order.

Thursday, 11 December 2014 | 7.30 PM

Cemeti Art House

D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta

Creation of a New Identity through Music at Kunci

This Thursday December 11 between 15:00 and 18:00 there will be a presentation of a presentation project from students of the Department of Anthropology at the University of Gajah Mada. The presentation aims to share preliminary findings of the research on tek-tek music, in order to formulate the final research questions.

The presentation will be held at KUNCI Cultural Studies Center Ngadinegaran MJ3/100, Yogyakarta 55143

 

KUNCI mengundang anda untuk hadir dalam presentasi proyek penelitian Brigitta Engla Aprianti, Nikolas Nino dan Yudha Baskoro (mahasiswa Jurusan Antropologi, Universitas Gajah Mada) mengenai kelompok “musik tek-tek” di Jalan Malioboro, Yogyakarta. Musik merupakan sebuah hasil kebudayaan yang tidak berdiri sendiri dan mampu mencerminkan kehidupan sosial karena memuat ide-ide dari suatu kelompok masyarakat. Begitu juga yang terjadi pada “musik tek-tek”—sebuah jenis musik yang berasal dari daerah Jawa Tengah (Banyumasan, Karisidenan Kedu), tepatnya Purbalingga. Musik yang menggunakan bambu sebagai komponen utamanya dibawa pertama kali ke Yogyakarta oleh kelompok asal Purbalingga bernama Calung Funk. Setelah kurang lebih lima tahun berada di kawasan Malioboro, musik ini seolah-olah telah melebur dengan lanskap dan soundscape dari kawasan tersebut. Lantas, bagaimana penciptaan identitas baru kelompok melalui musik dapat terjadi? Presentasi ini bertujuan untuk membagikan temuan-temuan awal dalam rangka merumuskan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang lebih tajam.

Brigitta Engla, Nikolas Nino, dan Yudha Baskoro adalah mahasiswa jurusan Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, yang sedang magang di KUNCI selama bulan Oktober hingga Desember 2014.

Robert Kan at Merdesa

Robert Kan at Merdesa

This Wednesday 10th of December a new solo exhibition by Robert Kan will be opening at Merdasa. The inauguration will commence at 19:30 and will be opened by Yaksa Asthma Wirya.

The coordinates are Road D.I. panjaitan 10

 

Mengundang Anda pada pembukaan Pameran Tunggal Robet Kan Netes Ing Angin

Rabu 10 Desember 2014, jam 19.30 WIB dibuka oleh Yaksa Asma Wirya

Merdesa: Jalan D.I. Panjaitan No.10

Datanglah beramai-ramai bergembira dan berbahagia bersama-sama

Identity Parade|Maradita Sutantio 12 December Yogyakarta

This Friday there will be a really interesting exhibition by Maradita Sutantio at ViaVia Café & Alternative Art Space. The artist will be present, so you’ll have the chance to speak directly with her. The event will also have live music.

A really interesting chance to keep up with Indonesian upcoming artists.

ViaVia Jogja, Jl. Prawirotaman 30, starting at 6:30 pm

Identity Parade|Maradita Sutantio
Kesadaran manusia sebagai mahluk hidup dan eksistensinya dalam berhubungan dengan mahluk hidup lain adalah tema besar dalam karya-karya Maradita Sutantio. Hubungan tersebut membuat manusia selalu dalam posisi bernegosiasi dengan berbagai aspek yang sangat luas, lebar dan intangibles. Dalam pameran tunggalnya ini Dita melakukan sebuah riset terhadap identitasnya sendiri dan jejak-jejak yang terekam dalam hubungannya dengan lingkungan sosial.
Secara etimologis, identitas merupakan situasi dimana manusia mampu berkaca dan menemukan berbagai tanda khas melalui pertautan sisi internalnya dengan eksternal (hal ini mengacu pada kondisi; sosial, politik, budaya, gender, psikoanalisis, dll). Selain itu, manusia tidak hanya berusaha untuk mencari dan mengenal dirinya sendiri. Ia juga berusaha untuk memberi identitas kepada orang lain.
Identity Parade, merupakan perayaan atas makna identitas diri yang dianggap telah jelas dan berhasil ditemukan. Identitas/ tanda-tanda khas yang diadopsi (dan teradopsi), berperan menjadi kulit terluar yang muncul berlapis untuk menata dan mengelola makna proses interaksi dengan dunia sosial. Seperti jaket dan pakaian, tanda khas tersebut dapat dipilih dan diganti dengan cepat – menyesuaikan dengan situasi yang dihadapi.
Sebelum berhasil menemukan identitas diri, saya, anda, dan mungkin kita semua pasti pernah memasuki masa-masa kritis dalam proses pencarian makna diri dan remeh-temeh- nya. Erik Erikson menyatakan krisis dan pembentukan identitas akan selalu terjadi pada setiap tahap kehidupan seseorang pada tiap-tiap tingkatan usia tertentu. Penemuan identitas yang dirayakan ternyata tidaklah mutlak dan solid, ia selalu berubah dan bergerak, sebagian faktor pengubahnya bahkan diluar kendali kita sebagai si empunya identitas. Identitas menjadi benda murahan yang semakin mudah terberi dan termanifestasi faktor luar – diluar si pemilik identitas.

Sharing meeting @ Kedai Keblasuk

Do you like helping others? Do you have experience or would you like to start from scratch?

There is a meeting tomorrow at Kedai Keblasuk starting at 6 pm. The idea is to meet other like-minded people, make new friends and share interesting experiences.

Talking about Kedai Keblasuk, did you know that they also have a weekly language exchange on Thursdays? It is an excellent opportunity to polish your English skills.

Mari berbincang tentang pengalaman membantu orang lain.

It is a free event